Friday, December 24, 2010
Hidup Lo Milik Lo
Secercah Kata part 1
Tirani sepucuk kesunyian
Di dermaga madin…
Kala magrib berdendang
Di ujung cakrawala
Ku menopang rindu yang amat sangat
Dambaku kini hanya cinta hakiki
Di sini ..
Di dermaga madin
Menunggu hadirmu hantarkan cinta
Cinta abadi tuk temani diriku..
Di sini ..hanya di sini
Di dermaga madin
Senja hari
Rintiknya hujan menangis
Tentang senja hari
Senantiasa bergairah
Membangun negri
senja hari
Membasahi hati
Dengan fundamental iman
Dibentengi ideology islam
Senantiasa mengawasi
Senantiasa menjaga bersihnya hati
Sulit Melupakan
Ketulusanmu akan tergoyah
Sebelum kau pejamkan hati untuknya
Seperti tak sempurnanya aku mendampingimu
Jangan oleh sebab itu keraguan menjadi sempurna
Kekurangan bukan untuk dipungkiri
Tetapi endapkan ke telaga perenungan
Kepercayaan akan bermahkota jiwa kita
Kurindukan
Aku ingin menjemput awan
Tempat dimana dulu kuselipkan perangaimu
Saat hujan tiba ku sentuh tangismu, tawamu
Akan ku bungkus awan itu dengan rindu
Yang ku endapkan pada hujan
Luar Biasa
Ini bukan soal keterbatasan
Kita hanya belum bisa menguraikan
Kata, bahasa, rasa
Untuk kemudian menyatakan asa
Betapa tak peka saat hati terseka
Mungkin kita belum berhenti menjadi pelakon
Sebelum sandiwara ini berakhir
Jangan buang cintaku
Kiraku tidaklah percuma kita kumpulkan serpihan debu
Walau tak mudah menjaga utuhnya
Adalah masalah bila kau membuangnya
Sebab tidak akan ada harapan untuk menimang bahagia
Bila cinta sudah bukan nyawa kita
Yang tersisa
Bukan kebetulan aku menimang terang bintang
Tapi saat kau tak ada
Hanya itulah keindahan yang tersisa
Menyentuhku dengan hawa yang mengingatkan
Debur nafasmu dalam pelukku
Aku yang terakhir
Kalaulah matamu terpejam pastikan aku yang terakhir kau pandang
Meski mungkin aku yelah jauh kala matamu terbuka
Tetapi hatiku dapat kau bawa kemanapun kau suka
Anak
Secylia tak bisa mencegah suaminya. Ia termangu. Malam kembali berwarna ungu.
Sudah yang kesekian kali Eryck memaki Lanis, dan meninggalkannya sendiri. Lanis, seperti waktu-waktu yang sudah akan menghabiskan malamnya sendiri. Maklum, sejak dinikahi Erick 15 tahun lalu, ia belum juga hamil.
Lanis yakin itu bukan karena kesalahan rahimnya. Menurut dokter, tak ada masalah pada dirinya untuk hamil. Bahkan, "Nyonya masij tergolong subur. Jadi sabarlah, mungkin saat ini Nyonya belum diberi kepercayaan oleh Tuhan," kata dokter Nazar Ibrahim Chaniago.
Tapi, sampai kapan Lanis harus bersabar? Ia sudah rindu sekali menimang bayi. Hal itu juga diakui kedua orang tuanya. "Ayahmu ingin sekali menggendong bayi darimu," kata ibunya suatu hari.
"Bukan, ibumu yang kepingin sekali. Setiap malam dia ngomongin kamu, kapan Lanis bisa bisa punya anak," potong ayah. "Yeaah, anak memang harapan setiap orang berumah tangga. Biarlah hidup miskin, tapi punya anak. Kan setiap bertemu orang yang ditanya, berapa anaknya, bukan berapa rumahnya. Iya kan?"
Sebetulnya Lanis ingin membantah anggapan kedua orang tuanya yang cenderung sudah kolot itu. Kini para istri, terutama aktivis perempuan, tak lagi menganggap keturunan adalah prioritas orang berkeluarga. Tidak. Bahkan, ada seorang aktivis perempuan mengatakan, nikah adalah masalah, sedang anak lebih besar masalahnya. Tapi, itu tidak ia ucapkan kepada orang tuanya. Ia khawatir, ayah dan ibunya akan terluka. Biarlah orang tuanya tetap menumbuhkan harapan dan impiannya, pikir Lanis, sampai suatu saat mereka akan melupakanya.
"Bagaimana mungkin akan bisa hamil? Ah, ibu pasti akan sedih kalau kujelaskan bahwa Eryck impoten. Mandul. Ibarat benih yang gabuk akan sia-sia ditaburkan di ladang yang subur sekalipun!" Desis Lanis.
Hanya saja, Eryck hingga kini tak mau menyadari kelemahannya. Ia selalu menyalahkan istrinya. Menuduh Lanis yang mandul, yang impoten. Tak bisa memberikan keturunan kepadanya. Padahal, demikian dokter Ridwan Nasution, yang masalahnya ada pada Eryck dan bukan Lanis.
"Kalau suami nyonya mau sedikit bersusah payah, sebetulnya bisa. Ia harus berani konsultasi kepada dokter kandungan, dan mau mengikuti saran dokter. Kalau tidak..." Dokter memberi saran pada Lanis.
Tapi itu masalahnya. Eryck terlalu kokoh dengan sikapnya. Ia selalu mengelak-bahkan emosi-jika disalahkan. Menurut Eryck, sejak kakek-neneknya hingga ayah dan ibunya, bahkan kakak serta adiknya yang telah berkeluarga, semuanya punya anak. Itu artinya, kalau Eryck mengatakan itu, dia lahir dari keturunan yang tidak mandul.
"Jadi, bagaimana mungkin aku tak bisa memberimu anak? Dasar kamu saja yang memang mandul!" Tuding Eryck.
Ingin rasanya Lanis menampar pipi suaminya sekeras-kerasnya. Betapa sakitnya tudingan-tudingan yang rak beralasan itu. "Apa kamu ingin bukti kalau aku bisa hamil?" Lanis bergumam.
*****
Dua bulan kini usia kandungan Lanis. Terakhir ia periksa ke dokter dua hari lalu, dokter mengatakan, keadaan kandungannya baik. Letak janin yang masih gumpalan darah juga dalam posisi bagus.
"Tak ada masalah. Asal nyonya mesti hati-hati. Jangan bekerja yang berat-berat, jangan terlalu lelah. Tapi juga jangan banyak istirahat. Ini hamil pertama loh harus di jaga baik-baik..." Pesan dokter Nazar Ibrahim Chaniago.
Dokter Chaniago memang terkenal sangat baik kepada setiap pasiennya. Apalagi kepada Lanis, pasien yang telah menjadi langganannya, sejak ia pertama kali menikah. Dokter itu pula yang menyarankan kepadanya agar mampunyai anak dulu baru ber-KB. "Bagaimana pun anak adalah cita-cita setiap orang dari pernikahan," kata dokter Chaniago.
Namun sialnya, Eryck malah mencurigai kehamilan istrinya bukan dia yang menanam benih. Tetapi hasil berselingkuh.
"Ya ampun!!! Sampai begitu kau menuduh istrimu? Kau ini lelaki macam apa? Tepatnya kamu itu kadal...!" Edo, teman karib Eryck di tempat kerjanya menuding. Tampak wajah Edo memerah. Hampir saja tangannya melayang ke pipi Eryck, kalau Eryck tidak cepat mengelak.
"Dulu kau menginginkan Lanis hamil dan melahirkan agar bisa memberimu anak, kamu bisa momong bayi. Nyatanya, begitu istrimu hamil malah kau berbelik menuduhnya berselingkuh. Aku jadi tak mengerti apa maumu. Aku mencurigaimu, kalau kamu itu sakit jiwa!" Edo menyambung.
Eryck terdian di kursinya. Wajahnya menunduk. Ia tak berani menatap sobatnya yang memandangnya dengan mata nyalang. Kamu tak akan pernah tau persis do, kenapa aku tak percaya bahwa istriku hamil karena dari benihku. Kamu mengetahuiku hanya sebatas luarnya, dan hanya aku yang mengetahui apa yang ada di balik yang tidak kamu ketahui.
Kalau saja aku berterus terang padamu bahwa aku....ah. Bahwa Lanis sebenarnya...ah, tak perlu kamu tahu lebih detail tentang keluargaku. Tapi, sekiranya itu semua kukatakan padamu, pasti kamu terbelalak. Sialnya, kamu akan menuduhku gila. Batapa sakitnya dicap gila padahal sejatinya aku waras?
Edo tak akan pernah tahu. Sama dengan keluarga Eryck, keluarga Lanis. Semua itu, selama ini, memang ia kubur dalam-dalam. Eryck malu kalau orang tahu bahwa ia memang tak bisa memberi apa-apa di dalam rumahnya, kecuali kemewahan. Kecuali kehormatan sebagai orang yang di segani di perusahaan karena jabatannya.
Namun apakan semua itu sudah cukup bagi sebuah keluarga? Pertanyaan yang kerap terlontar dari keluarga Lanis terus mengiang. Mengganggu. Membentur-bentur kesadarannya sebagai lelaki, sebagai suami. Betapapun waktu terus bergulir, sungguh pun usia terus menanjak menjadi renta, pertanyaan yang menjurus pengharapan menggendong bayi yang keluar dari rahim Lanis, seperti menuntut.
Siapa salah? Laniskah kalau kini ia bisa hamil dan beberapa bulan lagi akan melahirkan di dokter Nazar Ibrahim Chaniago? Atau Eryck yang ternyata masih tidak mau menerima kehadiran cabang bayi yang barada dalam kandunhgan istrinya?
Sudah lama. Sudah cukup lama, Eryck dan Lanis mengharapkan sekali keturunan. Berbagai cara, hingga ke orang pintar, sudah ditemui Lanis. Tetapi , harapan tinggal harapan. Impian hanyalah impian. Lanis tak pernah merasakan ada fetaran bayi dalam perutnya. Dan kini ia baru bisa tersenyum bangga. Ia bisa bercerita macam-macam pada teman-temannya, pada para tetangganya tentang bagaimana rasanya menjadi perempuan hamil.
"Bener lho, mbakyu. Si jabang bayi ini seperti menendang-nendang di perutku. Tapi ga sakit, geli. Seperti...." Cerita Lanis pada dian, tetangga sebelah rumahnya.
"Memang begitu, nis. Apalagi kalau jabang itu memang anak dari benih suami sendiri..."
"Maksud mbakyu?" Lanis seperti tersinggung ketika dian menekankan kata "benih suami". Ternyata bukan cuma Eryck yang mencurigaiku bahwa benih yang ku kandung ini bukan dari suamiku, tapi Dian dan mungkin juga banyak orang lain yang tak percaya. Ah....
"Ah...enggak. Maksudku, kamu beruntung. Suamimu sangat mencintaimu, sangat mengharapkan seorang anak. Jaga kesehatanmu, dik...."
"O iya, mbakyu. Eryck memang sudah lama menghapkan anak dariku. Ia malah sudah mempersiapkan segala sesuatu untuk kelahiran anak pertama kami ini. Kemarin saja dia sudah membelikan tempat tidur khusus, kemarinnya lagi membelikan pakaian, dan berbagai mainan. Aduh..pokoknya rumahku seperti toko sekarang," jawab Lanis dusta. Sebab, tempat tidur, pakaian, dan mainan buat anak pertamanya sesungguhnya bukan Eryck yang membelikan. Tetapi dia, bahkan untuk persiapan persalinan kelak.
"Nyonya jangan sering melamun. Engga baik terhadap perkembangan janin," nasihat dokter Chaniago ketika melihat Lanis menerawang.
Tinggal menunggu waktu ia melahirkan. Pagi-pagi tadi ia di antar Adi, sopir pribadinya yang sejak kandungannya berusia 9 bulan, dia minta tidur di rumahnya. Lanis khawatir jika ia harus pergi ke rumah sakit karena ingin melahirkan pada tengah malam. Sementara Eryck acap kali jarang tidur di rumah.
"Saya engga melamun, dok. Tapi, sedang menikmati kebahagiaan bahwa sebentar lagi anak saya ini akan lahir. Dok, bukankah kebahagiaan yang tiada tara bagi seorang perempuan adalah bisa memberikan keturunan kepada suaminya?"
"Ya, benar. Sebab itulah yang diinginkan setiap manusia berumah tangga. Bisa memakmurkan bumi ini dengan tawa dan tangis anak-anak."
"Tapi, dok, kenapa banyak orang malah mengkhawatirkan lahirnya anak-anak. Mereka menganggap anak adalah beban."
"Ah, itu pikiran para aktivis, mereka yang berkarier di luar rumah. Hanya sikap arogan, sebab sesungguhnya hatinya merasa sepi."
"Begitukah?" "Buktinya, nyonya berjuang untuk hamil dan melahirkan. Karena nyonya tak ingin dikatakan istri yang tak mampu memberikan anak pada suami, karena nyonya tak ingin kesepian manakala suami tugas di luar. Iya kan?"
"Bukan cuma itu, dok. Saya ingin buktikan pada setiap orang bahwa saya tidak mandul, tidak impoten. Saya subur."
"Maksud nyonya? Tapi, sudahlah."
"Ah, ya sudah, dok, saya mau istirahat." Lanis tak ingin berpanjang-panjang cerita. Ia khawatir terlalu banyak bercerita, maka banyak pula yang dusta. "Kapan dok, saya melahirkan. Ko lama betul, sih?"
"Katanya mau istirahat, jangan tanya lagi," kata dokter Chaniago sambil meninggalkan pasiennya di ruang peristirahatan.
****
Tengah malam, tepatnya pukul 00.01, Lanis melahirkan. Bayinya mungil berambut keriting tebal, kulit berwarna putih halus, dan wajahnya sedikit mengambil wajah Eryck, langsung ditangani bidan Indri, bidan persalinan yang menjadi kepercayaan dokter Chaniago.
Bayi telihat sehat. Tanpa cacat. Tak sedikitpun mengambil wajah Lanis. Meski begitu Lanis sangat senang, bahagia. Ia kini bisa membuktikan dia bisa memberikan sesuatu "kekayaan" kepada Eryck, kepada keluarganya, kepada mertuanya. Betapapun ia mesti membayar mahal: tak bisa melihat wajah anaknya, juga wajah Eryck: apakah tersenyum ataukan malah lari begitu tahu anaknya mirip sekali dengan wajahnya, kecuali warna kulit dan rambutnya seakan mengadopsi dari Edo,sahabat suaminya.
Thursday, December 23, 2010
Luka..
Kehidupan tidak terlepas dari tarian kebahagiaan dan kesedihan. Ranting suka dan duka bak cabang pohon kehidupan.
Malem pikiran gw terbebani keadaan yang ngebuat gw kegerahan, bahkan kepanasan di tengah dinginnya kipas angin. Jiwa gw menangis saat gw dapati sepotong jiwa begitu membenci gw, menghujat gw, bahkan memaki-maki gw. Jiwa gw menangis ketika lontaran-lontaran tajam menghujam. Perih. Pedih. Sedih. Gw ga nyangka aja orang yang selama ini kebutuhannya elalu dipenuhi oleh nyokap gw, begitu picik pikirannya. Betapa menderitanya gw, saat dituduh bukan siapa-siapa dalam keluarga ini. Jiwa gw menjerit. Suara gw terdengar meraung, bahkan melolong. Berharap lolongan suara gw terdengar oleh jiwa-jiwa yang gw cinta.
Pendar-pendar penglihatan gw mengabur. Manik-manik bola mata gw terasa sakit, memerah. Mata gw menyipit, mungkin terlalu banyak menangis hingga membuat pandangan gw mengabur
Sementara disepotong jiwa gw yang rapuh, menangis sedih. Sosok dia segera hadirkan ketenangan dalam hati gw. Ada dirinya membuat gw bertahan.
Sunday, December 19, 2010
Just enjoy it....
tau ga hari ini gue harus menghadapi orang yang males banget gue temuin, orang yang sebenernya ga super nyebelin sih ..., tapi sikapnya yang selalu maksa..buat gue enek. untung masih bisa gue handle,...
yah enjoy aja lah ...
hari in pulang kuliah sendiri, dua sahabat yang biasanya bareng gue, sekarang ga lagi, belum tau kenapa..
tetep gue enjoy..
Saturday, December 18, 2010
Some People in my Day...
Friday, October 29, 2010
Saturday, 23 Oct 2010
Pulang di anter PoLisi
Siang itu, panas terlalu menyengat kulit, sepulang dari kantor gue mampir ke kampus buat ambil ipe semester 4, hasil nilainya not so bad, habis itu gue langsung balik karena ga ada dosen yang masuk, jalan kaki dari kampus menuju samsat buat gue aus di tambah lagi matahari nyolot banget mancarin panasnya, sebelum naik bis ahirnya gue beli aqua gelas dua buah, waktu itu uang gue pas pasan banget buat ongkos balik, di tas Cuma ada uang 13000….,karena kepake buat beli air mineral se’ceng dengan begitu uang gue tinggal 12ribu rupiah. karna gue tipe orang yang boros makanya I try to stop bring much money, yah paling ga pas lah buat ongkos bulak balik ngantor and kuliah plus jajan. Ga lama kemudian bis dateng…, dengan santai gue naik dan ternyata harapan gue kandas untuk bisa duduk santai di kursi bis, penuh banget bo!!! Gue berdiri deket pintu depan bis, dalam perjalanan mulai dari bangku belakang sang kenek bis jalan untuk maintain ongkos, sebentar lagi giliran gue, gue buka tas untuk ngambil uang , hhhhhh….gue mulai paniik….”ga mungkin !!!!!!! “ dalam hati gue meringis. “ kemana uang ceban gue ???? , aduh bisa gawat “. Gue panic karena ditas gue, uang ceban yang tinggal selembar lembarnya ntu kaga ada. “ Anjriiiid bayar pake apa gueeehh !!!!!!! “ gemuruh hati gue. Saat itu gue puter otak dan tanpa banyak mikir karena gua juga bingung kemana larinya tu duit…, gue langsung ambil bb gue dan dengan sok iya gue pura pura nelfon Tia partner kerja gue di STIKes Pemi Banten. “Hallo….? Tia?? Tadi waktu gue minta tolong ambilin tas di meja kerja gue.. lo liat dompet biru gue ga? Coba tolong liatin donk tia di loker meja gue??? Kayanya ketinggalan deeehhh…,,,!!!! Aduuuhh ada ya tia, ketinggalan dund..aduuuhh gimana yaaah …gue di bis niihh.. ga ada ongkos, bingung..,gimana ya…????? “ sengaja gue kerasin nada suara gue biar tu kenek denger dan tau kalo gue kaga ada duit buat bayar bis. Waktu itu hamper semua penumpang bis ngeliatin gue .., asli gue pucet bangeeeed tapi bodo amat gue dah ga tau harus ngapain, …, Alhamdulillahnya sang kenek baik hati, sepertinya dia faham gimana keadaan gue.., sang kenek jalan begitu aja ngelewatin gue tanpa nagih ongkos bis…., ffuuuuuiiihhhh akhirnya gue rada plong, ya walaupun malu abis, so gue turun di egle, arah ke kanan adalah jalan menuju pulang sedang ke kiri menuju balaraja, gue periksa tas, ada uang 2ribu perak lagi, mayan nyampe cibadak, niat gue dari cibadak biar gue naik ojek nyampe rumah baru gue bayar. Ntah karena gue yang uda paleng, atau memang itu bodohnya gue, gue stop mobil dan gue naik, lama kelamaan ko gue ga nyampe nyampe cibadak yaaahh…??? “ cibadak masih jauh ya bang?? “ Tanya gue ke supir. “ wah neng salah naik mobil neng ini arah ke balaraja..” kata supir sambil nyengir. “ aduh mati gue !!! yaudah bang turun sini aja “ kata gue kesel. Seturun dari mobil gue makin bingung setengah mati harus gimana, mending kalo ada ojek sepi men yang ada motor orang lalu lalang. “Apa gue nyetop orang aja yah yang naik motor??” dalam hati gue mikir. “tapi gue takut orang jahat, tar gue di culik lagi…engga ah ngeriii…aduuuuuhh gimana yaahh..” ga lama kemudian ada mobil polisi lewat, dengan spontan karena reflek gue langsung hadang tu mobil untuk bilang…”SSSTTTOOOOOOOOPPP….!!!!!!!” Teriak gue. Mobil polisi tipe sedan yang berwarna coklat itu ternyata sedang patroli, ada dua polisi didalamnya. “Permisi pak….saya boleh minta tolong ga pak??” Tanya gue sambil melas…”boleh,minta tolong apa??” jawab polisi yang kemudian gue ketahui namanya adalah Surya. “Uang saya ilang pak, mau numpang sampe cibadak, boleh??” ujar gue harap harap cemas. “Memang uangnya kemana? Di copet??” Tanya polisi mulai panic. “ng….ng…engga tau pak uangnya kemana? Ilang gitu aja, kayanya si jatuh…”jawab gue rada nyantai. “yaudah masuk….”katanya singkat. Gue langsung bergegas masuk mobil, selama perjalanan kami terus bercakap, masih seputar uang gue yang hilang. Namun selain itu kami sempat berkenalan, itu pun karna Surya lelaki usia 24 tahun yang memulai. “Namanya siapa mba??” Surya mencoba menyapa. “ Aku Risye” jawabku singkat. Tiba tiba polisi satunya yang lagi nyupir nyeletuk “Almarhum yah???”katanya sambil ketawa kecil. “ Enak ajaah itu si Chrisye kale” sambung gue. “ Oya kenalin ini partner saya namanya Indra” tunjuk Surya sambil memperkenalkan Indra yang sedang nyetir.
Sampailah ke obrolan yang udah gue duga sebelumnya, “udah punya cowo ya mba?” Tanya surya ingin tau. “Udah” jawab gue ga mau ribed. “tolong cariin donk saya lagi jomblo niih” ……”sama buat aku juga donk” celetuk Indra. “Pulang kuliah ney?” Tanya Surya lagi “iya, tadi abis dari kantor langsung ke kampus”, “oh kuliah sambil kerja ya?....kuliah dimana ris?" Kata indra kalem. “kuliah di UMT (Universitas Muhammadiyah Tangerang) “oh deket UNIS kan?? Saya kuliah di UNIS jurusan Hukum, boleh minta nomor telfonnya ris??”. Ga jauh dari fikiran gue pasti ujung-ujungnya nomor telfon. “hhhmm bapak kuliah di UNIS ?? semester berapa pak??” Tanya gue pengen tau. “Waaah jangan panggil bapak donk, masih muda neh….!!!!!! Baru semester 3, sempet ketunda kemarien pas tes polisi. Kamu lulusan tahun 2008 yah?” katanya sambil menduga-duga. “iyah lulusan 2008, emang kamu lulusan 2008 juga ?’’ gue ga percaya. “ ga percaya??? Ni kartu mahasiswa gue,…” dia langsung buka dompetnya dan langsung ngasih kartu mahasiswa ke gue, dan tyernyata bener dia kkuliah di UNIS dan lo tau apa??? Indra pria berperawakan gagah itu lahiran tahun 91, itu si masih muda banged. Ternyata dia belum lama jadi polisi, dan ahirnya kami tuker nomor hand phone.
Ga lama lagi sampe dicibadak, “rumahnya dimana? Biar di anter sampe rumah aja,…gimana?”pinta surya. “Sampe perumahan Mustika aja deh, makasih banyak” gue coba menahan keinginan merekan untuk anter gue sampe rumah. “lain kali jangan mau sye dianter pake mobil polisi….” Kata Indra sambil senyum sok ganteng, walaupun emang beneran ganteng hehehe…”emang kenapa” Tanya gue polos. “ya ntar kamu di sangka BURONAN….!!!!!!!! MAU????hahahaha…”, “iya deh tapi bay the way makasih yuah udah di anterin” ucap gue seneng. Hikmah y ang bisa gue ambil dari hari itu adalah gue ga ga lagi bawa duit pas pasan selagi ada, niat gue yang mau berhemat dengan bawa uang secukupnya ternyata membawa banyak pelajaran hari itu….
Makasih ya bang surya, dan buat lo ndra…..makasih untuk hari itu, gue ga kan lupa….dan kapan pun waktunya saat lo baca tulisan ini, adalah rasa ucapan terimakasih dan sapaan maya buat lo.
With My Big Smile……….
Pak Edi pLis deeehh...
kuliah hari ini amat menyebalkan...
pergi kuliah cukup dengan pulpen, bb dan headset.
dan benar tak ada yang menghawatirkan ...dosen hilang tanpa jejak..tugas proposal yang katanya mau di bagiin ga ada kabar sampe sekarang..,padahal gue ngarep banget coretan "A" di tugas gue, mpet deh!!! modal nekat deh gue ngadep...''pak emang proposal ga ada yang bener sesuai yang bapak mau??"...sewot dikit abis gue sebel.."iya ga ada satu pun.." anjrid...dalam hati gue penasaran.."masa si pak??" eh tu dosen nunjukin proposal yang beliau buat, rasa-rasanya sama ah ama yang gue buat.., yaudah dari sewot ampe nyolot gue ngomong..."pak saya buat sama persis kaya begini pak...!!!" karna print outnya udah dikumpulin gue coba ajak ngobrol tu dosen sambil ngasih tau proposal gue...,syukur gue punya copy-nya di bb..,"ini proposal siapa?" yahelah dia pake nanya lagi dalem hati gue...sabar buuu.."ini punya saya pak.."..."ya yang saya maksud seperti ini, oke nama kamu siapa?tanya dosen belaga kaga tau..et da yak gua mah!! "risye marliana pak"jawab gue dengan nada mulai datar..."bagus, kamu ga perlu ngulang dan lanjut ke bab 2 dan 3". ''Makasih pak..,trus proposalnya kapan dibagiin pak??" "ya nanti saya kondisikan" cape dweeehh pakk....!!!!!!!!!!
ini ni yang kadang buat gue males kuliah...
tapi gue demen ama cara tu dosen ngajar, asik...man




